Praktikum Pertanian Ramah Lingkungan

 I. PENDAHULUAN

 1.1.      Latar Belakang

Memasuki pembangunan dalam era reformasi, pembangunan pertanian dihadapkan pada berbagai tantangan antara lain pemenuhan kecukupan pangan, persaingan dalam pasar global, mencari alternatif sumber pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan, penyediaan lapangan kerja dan peningkatan produktivitas angkatan kerja pertanian dan optimasi pemanfaatan serta pelestarian sumberdaya lahan dan sumberdaya kelautan. Dalam menghadapi tantangan tersebut peran dan peranan teknologi dihadapkan pada persoalan-persoalan yang lebih kompleks. Persoalan-persoalan tersebut berhubungan dengan pemasaran yang makin kompetitif, dengan demikian produk-produk teknologi harus mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif. Untuk menjawab persoalan tersebut teknologi memainkan peranan yang penting dan akan memberikan kontribusi bagi sumberdaya lainnya dengan menciptakan teknologi yang mampu meningkatkan produksi, baik kuantitas maupun kualitas, memberikan nilai tambah dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumberdaya.

Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat.

Peluang Pertanian Organik di Indonesia Luas lahan yang tersedia untuk pertanian organik di Indonesia sangat besar. Dari 75,5 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian, baru sekitar 25,7 juta ha yang telah diolah untuk sawah dan perkebunan (BPS, 2000). Pertanian organik menuntut agar lahan yang digunakan tidak atau belum tercemar oleh bahan kimia dan mempunyai aksesibilitas yang baik. Kualitas dan luasan menjadi pertimbangan dalam pemilihan lahan. Lahan yang belum tercemar adalah lahan yang belum diusahakan, tetapi secara umum lahan demikian kurang subur. Lahan yang subur umumnya telah diusahakan secara intensif dengan menggunakan bahan pupuk dan pestisida kimia.

Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasional walaupun secara bertahap. Hal ini karena berbagai keunggulan komparatif antara lain :

  1. masih banyak sumberdaya lahan yang dapat dibuka untuk mengembangkan sistem pertanian organik,
  2. teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah cukup tersedia seperti pembuatan kompos, tanam tanpa olah tanah, pestisida hayati dan lain-lain. Pengembangan selanjutnya pertanian organik di Indonesia harus ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar global.

Oleh sebab itu komoditas-komoditas eksotik seperti sayuran dan perkebunan seperti kopi dan teh yang memiliki potensi ekspor cukup cerah perlu segera dikembangkan. Produk kopi misalnya, Indonesia merupakan pengekspor terbesar kedua setelah Brasil, tetapi di pasar internasional kopi Indonesia tidak memiliki merek dagang. Pengembangan pertanian organik di Indonesia belum memerlukan struktur kelembagaan baru, karena sistem ini hampir sama halnya dengan pertanian intensif seperti saat ini. Kelembagaan petani seperti kelompok tani, koperasi, asosiasi atau korporasi masih sangat relevan. Namun yang paling penting lembaga tani tersebut harus dapat memperkuat posisi tawar petani.

Komoditas yang layak dikembangkan dengan sistem pertanian organik:

  1. Tanaman Pangan Padi
  2. Hortikultura Sayuran: brokoli, kubis merah, petsai, caisin, cho putih, kubis tunas, bayam daun, labu siyam, oyong dan baligo. Buah: nangka, durian, salak, mangga, jeruk dan manggis.
  3. Perkebunan Kelapa, pala, jambu mete, cengkeh, lada, vanili dan kopi.
  4. Rempah dan obat Jahe, kunyit, temulawak, dan temu-temuan lainnya.
  5. Peternakan Susu, telur dan daging

Agar pengetahuan dan informasi mengenai Pertanian Ramah Lingkungan dan pertanian organik, maka pada Praktikum Lapangan Pertanian Ramah Lingkungan ini dilakukan lah suatu kunjungan ke kelompok tani yang telah menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan. Kali ini kunjugan dilakukan ke Kelompok tani “Tigo Alua Saiyo” yang berada di Kab. 50 Kota Prov. Sumatera Barat.

1.2.      Tujuan Praktikum

Tujuan Dari praktikum ini adalah:

  1. Untuk menambah pengetahuan tentang sistem pertanian organic dari apa yang telah dilakukan oleh kelompok tani “Tigo Alua Saiyo”
  2. Untuk mengetahui sistem mina padi yang telah diterapkan oleh kelompok tani “Tigo Alua Saiyo”
  3. Untuk mengetahui sistem padi tanam sebatang yang telah diterapkan oleh kelompok tani “Tigo Alua Saiyo”

1.3.      Manfaat

Manfaat praktikum ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara pengolahan, dan penerapan sistem pertanian ramah lingkungan atau sistem organik yang telah diterapkan oleh kelompok tani ”Tigo Alua Saiyo”.

 

 II. METODE PRAKTIKUM

 2.1.      Tempat dan Waktu

Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 15 November 2012 bertempat di kelompok tani organik “Tigo Alua Saiyo” yang berada di kabupaten 50 Kota Provinsi Sumatera Barat.

2.2.      Alat dan Bahan

Alat yang digunakan selama Praktikum ini adalah berupa alat tulis dan kamera.

Bahan / objek yang jadi pengamatan adalah tanaman Padi

2.3.      Pelaksanaan Praktikum

Kegiatan Praktikum ini dilakukan dengan beberapa tahap:

a)      mendengarkan penjelasan dari pihak dinas pertanian dan kelompok tani “Tigo Alua Saiyo” di ruang Aula kelompok tani tersebut.

b)      Turun ke lapangan dengan di bagi menjadi beberapa kelompok dan di damping oleh petugas dari kelompok tani “Tigo Alua Saiyo” untuk melihat langsung penerapan pertanian organik dan melakukan diskusi. Pada saat turun kelapangan, kelompok kami di damping oleh Ibu Fitri.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

 3.1.      Hasil

Di kelompok tani “Tigo Alua Saiyo” ini, mereka telah menerapkan sistem pertanian organik sejak tahun 2007. Disini kita dapat banyak menemukan teknik-teknik penerapan pertanian organik, diantaranya: setiap petani mereka telah mengerti dan telah menggunakan Mol untuk budidaya pertanian mereka. Di kelompok tani ini mereka telah memiliki Bank Sampah sendiri. Akan tetapi, ada 2 sistem yang mereka terapkan dilahan persawahan mereka, yaitu sitem mina padi dan Padi Tanam Sebatang.

Pada saat turun kelapangan, kelompok kami di pandu oleh Ibu Fitri dan beliau menjelaskan tentang sitem mina padi dan padi tanam sebatang. Sistem mina padi disini merupakan suatu sistem yang diterapkan di persawahan petani dimana selain menanam padi mereka juga berbudidaya ikan di areal persawahan mereka. Jadi pada saat panen, mereka dapat memanen dua-duanya sehingga penghasilan petani pun meningkat. Ikan yang mereka budibadayan seperti ikan lele dan ikan nila.

Secara menyeluruh, peningkatan produksi beras ternyata belum mampu meningkatkan pendapatan petani. Penyebabnya adalah pemilikan lahan perkapita yang relatif sempit. Untuk mengatasi hal ini, perlu pengubahan strategi pertanian, dari sistem monokultur ke arah diversifikasi. Salah satunya adalah dengan sistem mina padi. Sistem budi daya ikan di sawah ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan serta meningkatkan pendapatan.

Padi tanam sebatang (PTS) dimana saat proses penanaman, padi yang di tanam hanya sebatang saja. Jarak tanam padi tanam sebatang 30 x 30 cm. Pengolahan tanah yang mereka lakukan adalah dengan memberikan kompos jerami ke tanah sebelum penanaman, pemberian pupuk kandang sebagai tambahan dan dari penanaman hingga panen di selalu diberi pupuk susulan seperti Mol. Hama dapat dikendalikan dengan perangkap. Contoh: perangkap walangsangit dengan menggunakan botol yang berisi keong mas dan diletakkan di tepi lahan. Perangkap / pembasmian tikus digunakan kulit jengkol yang telah diiris-iris dan di taburkan di sekitar sawah.

Luas lahan yang telah diterapkan sistem organik di kelompok tani ini sekitar 10 Ha. Selain itu di kelompok tani ini kendala yang masih ada adalah dimana lahan yang mereka Tanami bukan merupakan lahan miliki mereka sendiri, masih ada petani yang bekerja sebagai buruh untuk menggarap lahan milik masyarakat desa. Di kelompok tani ini, ada sebuah kesepakatan, dimana jerami dari padi tersebut tidak boleh di bakar, apabila di bakar, maka akan kena sangsi/denda. Dikelompok tani ini, mereka membuat kunci dalam penerapan pertanian organic, yaitu: Jujur, Ikhlas, Ulet, Ramah Lingkungan dan Kebersamaan.

3.2.      Pembahasan

  1. Sistem Mina Padi

Sawah minapadi (rice cum fish culture) adalah sistem budidaya terpadu tradisional antara ikan dan tanaman padi di sawah. Minapadi dapat dilakukan secara tumpang sari (ikan bersama padi), penyelang (saat menunggu tanam padi) dan palawija (di lahan sawah yang digenangi air) (Koessoemadinata, 2003).

1)      Padi yang cocok untuk sistem minapadi adalah yang mempunyai karakteristik sebagai berikut :

  • Pengakaran dalam, agar padi yang ditanam tidak mudah roboh sehingga menghambat pergerakan ikan.
  • Cepat beranak (bertunas), untuk menghindari keterlambatan pertumbuhan tunas akibat genangan air.
  • Batang kuat dan tidak mudah reba, untuk menghindari pertumbuhan batang yang lemah akibat serapan air ketanaman yang cukup tinggi.
  • Tahan genangan pada awal pertumbuhan
  • Daun tegak untuk memperbanyak sinar matahari yang dapat diterima oleh permukaan daun, sehingga proses fotosintesis lebih baik dan pertumbuhan padi akan meningkat.
  • Tahan hama dan penyakit.

2)      Perhatikan teknik pembuatan parit (caren)

Parit berfungsi sebagai tempat penampungan air pada saat berlangsung pemeliharaan ikan. Parit dibuat sebelum pengolahan tanah terakhir (perataan tanah) fungsi parit adalah :

  • Melindungi ikan dari kekeringan pada saat terjadi kebocoran ;
  • Memudahkan panen ikan ;
  • Tempat memberi makan ikan ;
  • Memudahkan ikan bergerak keseluruh petakan.

3)      Pemilihan Benih Ikan

Kondisi perairan pada lahan sawah mengandung resiko ekologis yang tinggi bagi usaha budidaya ikan yaitu fluktuasi pasok dan mutu air. Sehingga pada kegiatan ini perlu dilakukan pemilihan benih yang unggul yaitu tahan terhadap goncangan lingkungan dan penyakit.

4)      Sistem Tanam Padi

Padi yang ditanam dengan model mina padi ada dua cara, yaitu : sistem tanam pindah biasa dan sistem tanam pindah legowo.

a)      sistem tanam pindah biasa

  • Jarak tanam 25 x 25 cm
  • Jumlah bibit 2 – 3 batang per rumpun

b)      sistem tanam pindah legowo

  • Tanam pindah sistem legowo 2 : , artinya dua baris ditanami dan dua baris kosong secara berselang – selang ;
  • Ruang terbuka 50% dari total luas pertanaman ;
  • Jarak tanam 25 x 25 cm.

5)      Penebaran Benih Ikan

Penebaran benih ikan dilakukan 30 hari setelah penanaman padi dengan tujuan untuk menghindari obat-obatan atau pupuk.

6)      Pemeliharaan

Lama pemeliharaan ikan pada sistem minapadi tergantung pada ukuran benih dan besarnya ikan yang akan dipanen. Selama masa pemeliharaan ikan, ketersediaan pakan alami diupayakan selalu tersedia, oleh karena itu upaya penyuburan sawah dengan pupuk organik dapat dilakukan. Selain mengandalkan pakan alami pada masa pemeliharaan ikan ini juga dilakukan pemberian pakan buatan.

Pemeliharaan padi dilakukan dengan beberapa kegiatan, diantaranya penyiangan, penyulaman tanaman padi yang mati dengan cara menyulam dari bibit yang telah disediakan/dicadangkan, serta pemupukan.

7)      Panen Ikan

Panen ikan dilakukan setelah mencapai umur pemeliharaan ikan untuk memudahkan panen, keluarkan air dari pelataran sawah secara berangsur-angsur hingga air tersisa pada parit/caren. Setelah ikan berkumpul di saluran keliling/caren, selanjutnya ikan ditangkap dan dimasukkan kedalam tampungan.

Pemanenan padi pada sistem mina padi sama seperti permanenan pada penanaman monokultur. Pemanenan padi dilakukan setelah gabah masak merata dengan menggunakan sabit bergerigi untuk mengurangi rontoknya bulir padi sawah.

  1. Padi Tanam Sebatang

1)      Prinsip Dasar Budidaya Padi Padi Tanam Sebatang

a)      Penggunaan bahan organik (semua jerami dijadikan kompos dan dikembalikan ke lahan sawah sebagai pupuk dasar)

b)      Bibit Muda (umur 8 – 12 hari) dan ditanam satu batang per rumpun.

c)      Air tidak tergenang terus-menerus (penggenangan apabila diperlukan).

d)     Penerapan konsepsi pengendalian hama terpadu (PHT).

e)      Penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari.

f)       Bibit tanam satu pohon berlubang dengan jarak tanam 30 x 30cm , 35 x 35cm  atau lebih jarang.

2)      Keunggulan Metode Padi Tanam Sebatang

a)      Tanaman hemat air, selama pertumbuhan pemberian air maksimal 20cm, paling baik macak-macak sekitar 5mm)

b)      Hemat biaya, hanya membutuhkan benih 5kg/ha.

c)      Hemat waktu, ditanam bibit muda 5-12 hss dan waktu panen akan lebih awal.

d)     Produksi meningkat, dibeberapa tempat mencapai 11 ton/ha.

e)      Ramah lingkungan, tidak menggunakan bahan kimia digantikan dengan pupuk organik.

3)      Langkah-Langkah Budidaya Padi Tanam Sebatang

a)      Persiapan Bibit

  • Pembuatan Persemaian

Pembuatan persemaian tidak harus digunakan pada lahan sawah, tapi dapat menggunakan baki atau kotak dari kayu atau bambu.

  • Pemilihan Bibit

Pemilihan bibit dengan peremdaman dengan air garam (konsentrasi garam diukur dengan memasukkan telur ke dalam air garam, jika telur sudah mengapung berarti konsentrasi garam sudah tepat).

b)      Persiapan Lahan

  • Pembuatan Selokan

Petani membutuhkan setengah dari penggunaan air, karenanya selokan menjadi sangat penting  sehingga mudah dalam pengaturan air dan pengendalian hama keong mas.

  • Penebaran kompos

Penebaran kompos sebagai sumber nutrisi dan bermanfaat juga untuk memperbaiki struktur tanah.

c)      Penanaman Bibit

  • Pemindahan bibit ke sawah atau transplantasi dilakukan setelah bibit berdaun 2 helai.
  • Penanaman dilakukan secara berhati-hati dengan 1 bibit per lubang.
  • Posisi perakaran pada saat tanam dibuat seperti huruf “L”.
  • Jarak  tanam dibuat lebih lebar, yaitu 30 x 30cm.

d)     Penyiangan

Penyiangan dilakukan 7 – 10 hari setelah tanam. Penyiangan dapat dilakukan dengan tangan atau garok atau alat lain yang dapat digunakan untuk menghilangkan gulma. Penyiangan bertujuan untuk memperlancar perputaran dan pertukaran udara supaya memperkuat pertumbuhan akar lebih cepat dan sehat sehingga mendukung pertumbuhan tunas. Pada saat penyiangan air dalam keadaan macak-macak.

e)      Panen

Panen dilakukan saat padi berusia 98 hari setelah tanam  atau setelah tanaman tua atau ditandai dengan menguning atau masaknya gabah. Budidaya organik metode Padi Tanam Sebatang menitik beratkan pada prinsip daur ulang hara melalui panen, dengan cara mengembalikan sebagian biomasa ke dalam tanah.

4)      Manfaat Padi Tanam Sebatang

Manfaat Padi Tanam Sebatang antara lain sebagai berikut  :

a)      Hemat air (tidak tergenang) kebutuhan air hanya 20 – 30 % dari cara bertanam padi tradisional.

b)      Memulihkan kesehatan dan kesuburan tanah.

c)      Membentuk petani mandiri karena tidak tergantung pada pupuk kimia tetapi menggunakan pupuk organik dan pestisida buatan.

d)     Membuka lapangan pekerjaan, mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan keluarga petani.

e)      Menghasilkan produksi beras yang sehat dengan rendemen yang tinggi dan tidak mengandung residu kimia.

f)       Mewariskan tanah yang sehat untuk generasi yang akan datang.

 

KESIMPULAN

Dari Hasil Praktikum Lapangan ini dapat disimpulkan:

  1. Kelompok Tani “Tigo Alua Saiyo” telah menerapkan sistem Pertanian Organik yang baik dan Mandiri.
  2. Dalam menerapkan sistem pertanian organik kita musti menerapkan kunci: jujur, ikhlas, ulet, ramah lingkungan, dan kebersamaan.
  3. Metode Padi Tanam Sebatang menitik beratkan pada prinsip daur ulang hara melalui panen, dengan cara mengembalikan sebagian biomasa ke dalam tanah.

Sistem budidaya minapadi dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan produksi ikan khususnya ikan air tawar. Sistem budidaya minapadi yang dapat mengurangi penggunaan bahan kimia (pupuk dan pestisida) dan meningkatkan keragaman produk merupakan pilihan baik bagi pengembangan kawasan-kawasan wisata pertanian.

KULTUR KALUS

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Teknik budidaya tanaman dengan menggunakan metode konvensional dalam medium tanah atau pasir seringkali menghadapi kendala teknis, lingkungan maupun waktu. Sebagai contoh perbanyakan tanaman dengan menggunakan biji memerlukan waktu yang relative lama dan seringkali hasilnya tidak seperti tanaman induknya. Kendala lain yang juga sering muncul adalah gangguan alam, baik yang disebabkan oleh jasad hidup, misalnya hama dan penyakit, maupun cekaman lingkungan yang dapat mengganggu keberhasilan perbanyakan tanaman di lapangan. Kebutuhan akan bibit tanaman dalam jumlah besar, berkualitas, bebas hama dan penyakit serta harus tersedia dalam waktu singkat seringkali tidak dapat dipenuhi dengan menggunakan metode konvensional baik secara generatif maupun vegetatif.

Pada tahun 1901 Morgan mengemukakan bahwa setiap sel mempunyai kemampuan untuk berkembang menjadi suatu jasad hidup yang lengkap melalui proses regenerasi. Kemampuan ini oleh morgan disebut sebagai totipotensi (totipotency). Konsep totipotensi tersebut mempunyai makna sangat penting dalam bidang kultur jaringan. Teknik kultur jaringan tersebut dilakukan sebagai alternative perbanyakan tanaman bukan dengan menggunakan media tanah, melainkan dalam medium buatan di dalam tabung.

Kultur Jaringan adalah istilah umum yang ditujukan pada budi daya secara in vitro terhadap berbagai bagian tanaman yang meliputi batang, daun, akar, bunga, kalus, sel, protoplas, dan embrio. Bagian – bagian tersebut yang diistilahkan sebagai eksplan, diisolasi dari kondisi in vivo dan dikultur pada medium buatan yang steril sehingga dapat beregenerasi dan berdiferensiasi menjadi tanaman lengkap. Hartmann et al. (1990) menggunakan istilah yang lebih spesifik, yaitu mikropropagasi terhadap pemanfaatan teknik kultur jaringan dalam upaya perbanyakan tanaman, dimulai dari pengkulturan bagian tanaman yang sangat kecil (eksplan) secara aseptik di dalam tabung kultur atau wadah lain yang serupa.

 

Di samping kultur jaringan dan mikropropagasi, Hartmann et al. (1990) mengemukakan lima istilah yang diterapkan untuk menunjukan tipe – tipe dasar dari regenerasi tanaman secara vegetatif (regenerasi somatik). Kelima istilah tersebut didasarkan atas macam eksplan yang digunakan dalam kaitannya dengan siklus hidup tanaman, yaitu kultur meristem, proliferasi pucuk aksilar, induksi tunas adventif, organogenesis, dan embriogenesis somatik.

Kultur in vitro memiliki peranan yang sangat penting untuk mendapatkan hasil – hasil yang tidak mungkin dicapai melalui kultur in vivo. Salah satu contoh kultur jaringan, yaitu kultur kalus yang bertujuan untuk perbanyak klon tanaman melalui pembentukan organ dan embrio, regenerasi varian – varian genetika, mendapatkan tanaman bebas virus, sebagai sumber untuk kreopreservasi, produksi metabolit sekunder dan biotransformasi.

  1. Tujuan

Dalam penyusunan Makalah ini, penulis mempunyai tujuan, yaitu untuk mengtahui teknik kultur jaringan tumbuhan dengan menggunakan kultur kalus atau kultur sel.

  1. Batasan Masalah

Agar masalah pembahasan tidak terlalu luas dan lebih terfokus pada masalah dan tujuan dalam hal pembuatan makalah ini, maka dengan ini penyusun membatasi masalah hanya pada ruang lingkup Kultur Kalus.

  1. Metode Pembahasan

Dalam hal ini penulis menggunakan:

  1. Penelitian kepustakaan, yaitu Penelitian yang dilakukan melalui kepustakaan, mengumpulkan data – data dan keterangan melalui buku – buku dan bahan lainnya yang ada hubungannya dengan masalah – masalah yang diteliti.

 

 

 

 

BAB II

KULTUR KALUS

 

  1. 1.      Pengertian Dan Tujuan Kultur Kalus

Kultur Jaringan adalah teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian – bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri & bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utamanya adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman, menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril.

Teknik kultur jaringan pada saat ini telah berkembang menjadi teknik perkembangbiakan tanaman yang sangat penting pada berbagai spesies tanaman.
Kultur jaringan tanaman pertama kali berhasil dilakukan ole White pada tahun 1934. Pada tahun 1939, Whiter melaporkan keberhasilannya dalam membuat kultur kalus dari wortel dan tembakau. Pada tahun 1957, tulisan penting Skoog dan Miller dipublikasikan dimana mereka menyatakan bahwa interkasi kuantitatif antara auksin dan sitokinin menentukan tipe pertumbuhan dan morfogenik yang akan terjadi. Penelitian mereka pada tembakau mengindikasikan bahwa perbandingan auksin dan sitokinin yang tinggi akan menginduksi pengakaran, sedangkan rasio sebaliknya akan menginduksi pembentukan tunas. Akan tetapi pola respon ini tidak berlaku universal.

Temuan penting lainnya adalah hasil penelitian Morel tentang perbanyakan anggrek melalui kultur jaringan pada tahun 1960, dan penggunaan yang meluas media kultur dengan konsentrasi garam mineral yang tinggi, dikembangkan oleh Murashige dan Skoog tahun 1962. Teknik kultur jaringan selain perbanyakan mikro umumnya memerlukan pelaksanaan yang lebih canggih tapi memberi keuntungan yang lebih besar di masa depan. Beberapa teknik sudah menjadi alat berharga untuk mengeliminai penyakit dan perbaikan tanaman, termasuk ‘rekayasa genetika’.

Kultur jaringan tanaman mencakup: kultur sel, kultur jaringan, kultur organ, proses proliferasi, diferensiasi dan regenerasi, medium kultur dan faktor pertumbuhan lain, perbanyakan klonal, teknik sanitasi tanaman, serta penyelamatan plasma nutfah.

Tanaman dapat diperbanyak secara vegetatif menggunakan teknik kultur in-vitro dengan teknik kultur kalus atau kultur sel. Kultur kalus merupakan pemeliharaan bagian kecil tanaman dalam lingkungan buatan yang steril dan kondisi yang terkontrol.

Kalus adalah suatu kumpulan sel amorphous (tidak berbentuk atau belum terdiferensiasi) yang terjadi dari sel – sel jaringan yang membelah diri secara terus menerus secara in vitro atau di dalam tabung dan tidak terorganisasi sehingga memberikan penampilan sebagai massa sel yang bentuknya tidak teratur. Kalus dapat diperoleh dari bagian tanaman seperti akar, batang, dan daun. Penelitian pembentukan kalus pada jaringan terluka pertama kali dilakukan oleh Sinnott pada tahun 1960. Pembentukan kalus pada jaringan luka dipacu oleh zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin endogen (Dodds & Roberts, 1983). Secara in vivo, kalus pada umumnya terbentuk pada bekas – bekas luka akibat serangan infeksi mikro organisme seperti Agrobacterium tumefaciens, gigitan atau tusukan serangga dan nematoda. Kalus juga dapat terbentuk sebagai akibat stress (George & Sherrington, 1984). Kalus yang diakibatkan oleh hasil dari infeksi bakteri Agrobacterium tumefaciens disebut tumor.

Kalus adalah jaringan meristematik yang merupakan wujud dari dediferensiasi. Dalam kultur jaringan menginduksi terbentuknya kalus merupakan langkah yang penting. Setelah terbentuknya kalus baru diberikan perlakuan / rangsangan untuk berdiferensiasi membentuk akar atau tunas.

Secara histologi, kalus berasal dari pembelahan berkali – kali sel – sel parenkim di sekitar berkas pengangkut dan beberapa elemen penyusun berkas pengangkut kecuali xilem. Dalam teknik kultur jaringan (in vitro), kalus dapat diinduksi dengan menambahkan zat pengatur tumbuh yang sesuai pada media kultur, misalnya auksin dan sitokinin yang disesuaikan. Jika konsentrasi auksin lebih besar daripada sitokinin maka kalus akan terbentuk, sedangkan jika konsentrasi sitokinin yang lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi auksin maka yang terbentuk bukanlah kalus, melainkan tunas. Selain zat pengatur tumbuh atau hormon pertumbuhan, penambahan vitamin dan protein juga diperlukan untuk pertumbuhan kalus. Induksi kalus dalam teknik kultur jaringan tanaman diperlukan untuk memunculkan keragaman sel somatik di dalam kultur in vitro dan meregenerasikan sel tersebut menjadi embrio somatic.

 

 

 

 

Tujuan kultur kalus adalah untuk memperoleh kalus dari eksplan yang diisolasi dan ditumbuhkan dalam lingkungan terkendali. Kalus diharapkan dapat memperbanyak dirinya (massa selnya) secara terus menerus. Selain itu, tujuan kultur kalus adalah:

  • Perbanyak klon tanaman melalui pembentukan organ dan embrio.
  • Regenerasi varian – varian genetika.
  • Mendapatkan tanaman bebas virus.
  • Sebagai sumber untuk produksi protoplas.
  • Sebagai bahan awal untuk kreopreservasi.
  • Produksi metabolit sekunder.
  • Biotransformasi

Sel – sel penyusun kalus berupa sel parenkim yang mempunyai ikatan yang renggang dengan sel-sel lain. Dalam kultur jaringan, kalus dapat dihasilkan dari potongan organ yang telah steril, di dalam media yang mengandung auksin dan kadang – kadang juga sitokinin. Organ tersebut dapat berupa kambium vaskular, parenkim cadangan makanan, perisikle, kotiledon, mesofil daun dan jaringan provaskular. Kalus mempunyai pertumbuhan yang abnormal dan berpotensi untuk berkembang menjadi akar, tunas dan embrioid yang nantinya akan dapat membentuk plantlet.

Beberapa kalus ada yang mengalami pembentukan lignifikasi sehingga kalus tersebut mempunyai tekstur yang keras dan kompak. Namun ada kalus yang tumbuh terpisah – pisah menjadi fragmen – fragmen yang kecil, kalus yang demikian dikenal dengan kalus remah (friable). Warna kalus dapat bermacam – macam tergantung dari jenis sumber eksplan itu diambil, seperti warna kekuning – kuningan, putih, hijau, atau kuning kejingga – jingaan. (karena adanya pigmen antosianin ini terdapat pada kalus kortek umbi wortel). Dalam kultur kalus, kalus homogen yang tersusun atas sel – sel parenkim jarang dijumpai kecuali pada kultur sel Agave dan Rosa (Narayanaswany (1977 dalam Dodds & Roberts, 1983). Untuk memperoleh kalus yang homogen maka harus menggunakan eksplan jaringan yang mempunyai sel – sel yang seragam. Dalam pertumbuhan kalus, citodiferensiasi terjadi untuk membentuk elemen trachea, buluh tapis, sel gabus, sel sekresi dan trikoma. Kambium dan periderm sebagai contoh dari proses hitogenesis dari kultur kalus. Anyaman kecil dari pembelahan sel – sel membentuk meristemoid atau nodul vaskular yang nantinya menjadi pusat dari pembentukan tunas apikal, primordial akar atau embrioid.

 

 

 

  1. 2.      Tahapan pembentukan Kalus

Jika suatu eksplan ditanam pada medium yang sesuai, dalam waktu 2 – 4 minggu (tergantung spesiesnya), akan terbentuk massa kalus yaitu massa amorf yang tersusun atas sel-sel parenkim berdinding sel tipis yang berkembang dari hasil proliferasi sel – sel jaringan induk. Kalus dapat disubkultur dengan cara mengambil sebagian kalus dan memindahkannya pada medium baru. Dengan sistem induksi yang tepat, kalus dapat berkembang menjadi tanaman yang utuh (plantlet).

Kultur kalus dapat dikembangkan dengan menggunakan eksplan yang berasal dari berbagai sumber, misalnya tunas muda, daun, ujung akar, buah, dan bagian bunga. Kalus dihasilkan dari lapisan luar sel – sel korteks pada eksplan melalui pembelahan sel – sel berulang. Kultur kalus tumbuh berkembang lebih lambat dibanding kultur yang berasal dari suspensi sel.

Kalus terbentuk melalui tiga tahapan, yaitu induksi, pembelahan sel, dan diferensiasi. Pembentukan kalus ditentukan sumber eksplan, komposisi nutrisi pada medium dan faktor lingkungan.eksplan yang berasal dari jaringan meristem berkembang lebih cepat dibanding jaringan dari sel – sel berdinding tipis dan mengandung lignin. Untuk memelihara kalus, maka perlu dilakukan subkultur secara berkala, misalnya setiap 30 hari. Sel yang berasal dari tanaman apapun dapat dibiakkan atau dikulturkan secara aseptic pada atau dalam medium hara. Kultur biasanya dimulai dengan menanamkan satu iris jaringan steril pada medium hara yang dipadatkan dengan agar. Dalam waktu 2 – 3 minggu akan berbentuk kalus. Kalus semacam ini dapat disubkulturkan dengan memindahkan potongan kecil pada medium agar segar. Proses terbentuknya kalus sampai terjadi diferensiasi berbeda-beda tergantung macam dan bagian tanaman yang dipakai untuk eksplan, bahan kimia atau hormon yang terkandung pada media kultur.

Dalam perbanyakan mikro, produksi kalus biasanya dihindari karena dapat menimbulkan variasi dan, terutama pada zona perakaran, mengakibatkan diskontinyuitas dengan sitem berkas pengangkut utama. Kadang – kadang eksplan menghasilkan kalus, bukan tunas baru, khususnya jika diberikan hormon dengan konsentrasi tinggi pada media. Dalam hal lain, kalus sengaja diinduksi karena potensinya untuk produksi massal plantlet baru. Faktor pembatasnya adalah sulitnya menginduksi inisiasi tunas baru, terutama pada tanaman berkayu dan tingginya kejadian mutasi somatik.

 

Potensi terbesar penggunaan kultur kalus adalah dimana sel – sel kalus dapat dipisahkan dan diinduksi untuk berdiferensiasi menjadi embrio somatic. Secara morphologi, embryo ini mirip dengan yang ada pada biji, tapi tidak seperti embrio biji, mereka secara genetik bersifat identik dengan tanaman tetua, jadi, segregasi seksual materi genetik tidak terjadi. Karena 1 milimeter kalus berisi ribuan sel, masing–masing memiliki kemampuan untuk membentuk embrio, sehingga kecepatan multiplikasi sangat tinggi.

Kultur kalus dapat dilakukan pada media cair dan embrio berkembang sebagai individu terpisah, sehingga penanganan kultur relatif mudah.
Kultur kalus bermanfaat untuk mempelajari beberapa aspek dalam metabolisme tumbuhan dan diferensiasinya, misalnya:

  1.     1.         Mempelajari aspek nutrisi tanaman.
  2.     2.         Dalam beberapa hal, perlu fase pertumbuhan kalus sebelum regenerasi via somatic embryogenesis atau organogenesis. Embrio aseksual atau embrio somatik (somatic embryo) adalah embrio yang terbentuk bukan dari penyatuan sel – sel gamet jantan dan betina atau dengan kata lain embrio yang terbentuk dari jaringan vegetative / somatik. Embrio ini dapat terbentuk dari jaringan tanaman yang dikulturkan tanpa melalui proses yang dikenal dengan nama somatic embryogenesis. Jika proses ini terbentuk langsung pada eksplan tanpa melalui proses pembentukan kalus terlebih dahulu, maka prosesnya disebut somatic embryogenesis langsung (direct somatic embryogenesis).
  3.     3.         Untuk menghasilkan varian somaklonal (genetic atau epigenetic).
  4.     4.         Sebagai bahan awal kultur protoplast dan kultur suspensi.
  5.     5.         Untuk produksi metabolit sekunder dan regulasinya.
  6.     6.         Transformasi genetik menggunakan teknik biolistik.
  7.     7.         Digunakan untuk seleksi in-vitro.

Sel – sel penyusun kalus berupa sel parenkim yang mempunyai ikatan yang renggang dengan sel – sel lain. Dalam kultur jaringan, kalus dapat dihasilkan dari potongan organ yang telah steril, di dalam media yang mengandung auksin dan kadang-kadang juga sitokinin. Organ tersebut dapat berupa kambium vaskular, parenkim cadangan makanan, perisikle, kotiledon, mesofil daun dan jaringan provaskular. Kalus mempunyai pertumbuhan yang abnormal dan berpotensi untuk berkembang menjadi akar, tunas dan embrioid yang nantinya akan dapat membentuk plantlet. Beberapa kalus ada yang mengalami pembentukan lignifikasi sehingga kalus tersebut mempunyai tekstur yang keras dan kompak. Namun ada kalus yang tumbuh terpisah – pisah menjadi fragmen-fragmen yang kecil, kalus yang demikian dikenal dengan kalus remah (friable). Warna kalus dapat bermacam-macam tergantung dari jenis sumber eksplan itu diambil, seperti warna kekuning – kuningan, putih, hijau, atau kuning kejingga – jingaan. (karena adanya pigmen antosianin ini terdapat pada kalus kortek umbi wortel).

  1. 3.      Zat Pengatur Tumbuh pada Kultur Kalus

Pada umumnya untuk eksplan yang mempunyai kambium tidak perlu penambahan ZPT untuk menginduksi terbentuknya kalus karena secara alamiah pada jaringan berkambium yang mengalami luka akan tumbuh kalus untuk menutupi luka yang terbuka. Namun pada kasus lain, keberadaan kambium di dalam eksplan tertentu dapat menghambat pertumbuhan kalus bila tanpa penambahan zat pengatur tumbuh eksogen. Penambahan ZPT tersebut dapat satu macam atau lebih tergantung dari jenis eksplan yang digunakan. Pembelahan sel di dalam eksplan dapat terjadi tergantung dari ZPT yang digunakan, seperti auksin, sitokinin, auksin dan sitokinin, dan ekstrak senyawa organik komplek alamiah.

Berdasarkan kebutuhan akan Zat Pengatur Tumbuh untuk membentuk kalus, jaringan tanaman digolongkan dalam 4 kelompok:

  1. Jaringan tanaman yang membutuhkan hanya auksin selain gula dan garam – garam mineral untuk dapat membentuk kalus seperti umbi artichoke.
  2. Jaringan yang memerlukan auksin dan sitokinin selain gula dan garam – garam mineral.
  3. Jaringan yang tidak perlu auksin dan sitokinin, hanya gula dan garam – garam mineral seperti jaringan kambium.
  4. Jaringan yang membentuk hanya sitokinin, gula dan garam – garam mineral seperti parenkim dan xylem akar turnip.

 

Pada umumnya kemampuan pembentukkan kalus dari jaringan tergantung juga dari:

  1. Umur fisiologi dari jaringan waktu diisolasi
  2. Musim pada waktu bahan tanaman diisolasi
  3. Bagian tanaman yang dipakai
  4. Jenis tanaman

 

 

 

  1. 4.      Inisiasi Kultur Kalus

Kalus dapat diinisiasi dari hampir semua bagian tanaman, tetapi organ yang berbeda menunjukkan kecepatan pembelahan sel yang berbeda pula. Jenis tanaman yang menghasilkan kalus, meliputi dikotil berdaun lebar, monokotil, gymnospermae, pakis dan moss. Bagian tanaman seperti embrio muda, hipokotil, kotiledon dan batang muda merupakan bagian yang mudah untuk dediferensiasi dan menghasilkan kalus.

Pada perbanyakan tanaman hortikultura, dianjurkan melalui tunas aksilair, karena dapat menghasilkan bibit yang true-to-type (sesuai dengan sifat induknya). Tunas adventif, terutama yang melalui fase kalus, tidak dianjurkan dalam perbanyakan tanaman hortikultura, kecuali untuk tujuan seleksi dan variasi. Tunas adventif langsung, juga menunjukkan kemungkinan variasi, hanya dalam taraf lebih rendah daripada regenerasi melalui fase kalus.

Suatu sifat yang diamati dalam jaringan yang membentuk kalus adalah bahwa pembelahan sel tidak terjadi pada semua sel dalam jaringan asal, tetapi hanya sel di lapisan perisfer yang membelah terus menerus sedangkan sel-sel di tengah tetap quiscent. Faktor – faktor yang menyebabkan inisiasi pembelahan sel hanya terbatas di lapisan luar dari jaringan kalus, adalah:

  1. Ketersediaan oksigen yang lebih tinggi
  2. Keluarnya gas CO2
  3. Kesediaan hara yang lebih banyak
  4. Penghambat yang bersifat folatik lebih cepat menguap
  5. Cahaya

Dalam mempelajari proses pembentukan kalus sebagai akibat perlakuan, empat lapisan sel yang berbeda dalam wortel yang dikultur pada berbagai media. Lapisan-lapisan sel yang berbeda terlihat jelas tiga hari setelah kultur terdiri:

  1. Lapisan luar dengan sel – sel yang pecah
  2. Lapisan kedua terdiri dari dua lapisan sel dorman
  3. Lapisan dengan sel yang aktif membelah, terdiri dari 1 – 6 lapis
  4. Lapisan tengah (core) yang sel-selnya tidak membelah.

Induksi kalus dalam jaringan wortel ini, disertai dengan aktifitas enzim – enzim NAD-diaphorase succinic dehydrogenase dan cytochrome oxidase yang meningkat. Kenaikan aktifitas enzim terutama dalam lapisan sel yang sedang membelah. Dalam jaringan ini juga ditemukan aktifitas asam fosfatase. Pada kultur artichoke, enzim fosfatase diditeksi pada permukaan sel – sel yang tidak membelah. Menurut hipotesa Yeoman pada tahun 1970, asam fosfatase berhubungan dengan sel rusak dan enzim ini adalah index autolysis sel. Pada sel yang rusak tapi tidak pecah di lapisan perisfer, terjadi autolisis dan sel – sel yang rusak tersebut mengeluarkan persenyawaan yang dapat memacu pembelahan sel di lapisan berikutnya. Eksplan batang, akar dan daun menghasilkan kalus yang heterogen dengan berbagai macam sel. Kadang – kadang jaringan yang kelihatannya seragam histologinya, ternyata menghasilkan kalus dengan sel yang mempunyai DNA yang berbeda yang mencerminkan level ploidi yang berbeda. Begitupun pada kultur akar kalus yang dihasilkan dapat berupa campuran sel dengan tingkat ploidi yang berbeda.

 

  1. 5.      Kultur Kalus yang Heterogen

Eksplan batang, akar dan daun menghasilkan kalus yang heterogen dengan berbagai macam sel. Kadang – kadang jaringan yang kelihatannya seragam histologinya, ternyata menghasilkan kalus dengan sel yang mempunyai DNA yang berbeda yang mencerminkan level ploidi yang berbeda. Begitupun pada kultur akar kalus yang dihasilkan dapat berupa campuran sel dengan tingkat ploidi yang berbeda.

Sel – sel yang heterogen dari jaringan yang komplek menunjukkan pertumbuhan yang berbeda. Dengan mengubah komposisi media, terjadi seleksi sel – sel yang mempunyai sifat khusus. Hal ini berarti bahwa media tumbuh menentukan komposisi kalus. Sel yang jumlahnya paling banyak merupakan sel – sel yang paling cepat membelah dan sel yang paling sedikit adalah sel yang paling lambat pertumbuhannya. Media seleksi dapat berdasarkan unsur – unsur hara atau zat pengatur tumbuh yang ditambahkan ke dalam media.

Sel heterogen berasal dari materi asal yang heterogen pula, atau dapat terjadi karena massa kultur yang panjang melalui sub kultur yang berkali – kali. Perubahan yang terjadi dapat merupakan:

  1. Aberasi kromosom
  2. endo-reduplikasi yang menghasilkan poloploidi
  3. Amplifikasi gen, jumlah gen untuk suatu sifat tertentu per genome haploid bertambah
  4. Hilangnya suatu gen (deletion)
  5. Mutasi gen
  6. Transposisi urutan DNA (DNA sequences transposition).

 

Kecepatan perubahan – perubahan dalam kromosom ini, tergantung juga dari macam media yang digunakan, serta jenis tanamannya. Ketidakstabilan kromosom ini menyulitkan aplikasi kultur kalus untuk perbanyakan maupun untuk produksi bahan – bahan / persenyawaan sekunder. Sebaliknya ketidak-stabilan tersebut dapat dipergunakan dalam seleksi dan pemuliaan in vitro, untuk memperoleh sifat – sifat baru yang menguntungkan seperti resistensi terhadap penyakit, hilangnya morfologi yang memang tidak diinginkan seperti duri atau warna pada bunga.

Agar kalus dapat dijaga pertumbuhannya dan dapat diperbanyak secara berkesinambungan, maka perlu dipindahkan secara teratur pada media baru dalam jangka waktu terentu (subkultur). Apabila kalus disubkultur pada media agar yang dilakukan secara regular, maka akan menunjukkan fase pertumbuhan kurva S (sigmoid). Phillips et al., (1995) membagi lima fase pertumbuhan kalus, yaitu:

1.         Fase lag, dimana sel-sel mulai membelah.

2.         Fase eksponensial, dimana laju pembelahan sel berada pada puncaknya.

3.         Fase linear, dimana pembelahan sel mengalami perlambatan tetapi laju ekspansi sel meningkat.

4.         Fase deselerasi, dimana laju pembelahan dan pemanjangan sel menurun.

5.         Fase stationer, dimana jumlah dan ukuran sel tetap.

 

Kalus yang tumbuh secara in vivo pada batang tanaman biasanya disebut dengan tumor, ciri-ciri tumor adalah sebagai berikut:

  1. Terjadi penyakit yang infeksinya melalui luka (Crown gall disease)
  2. Jaringan tumor yang terjadi dapat tumbuh terus, walaupun penyebabnya yang berupa bakteri Agrobacterium tumefacien telah dihilangkan
  3. Tumor ini bila ditumbuhkan pada media buatan tidak memerlukan auksin maupun sitokinin. Ketidaktergantungan jaringan tanaman untuk tumbuh dan terus membelah disebut habituation.

Massa kultur yang ditumbuhkan terlalu lama dalam media yang tetap, akan menyebabkan terjadinya kehabisan hara dan air. Kehabisan hara dan air dapat terjadi karena selain terhisap untuk pertumbuhan juga karena media menguapkan air dari masa ke masa. Kalus tersebut kecuali kehabisan unsur hara, kalus juga mengeluarkan persenyawaan – persenyawaan hasil metabolisme yang menghambat pertumbuhan kalus itu sendiri. Untuk menjaga kehidupan dan perbanyakan yang berkesinambungan, kalus yang dihasilkan perlu disubkulturkan.
Street (1969 dalam Dodds & Robert 1983) menyarankan massa sel yang dipindahkan pada subkultur harus cukup banyak antara 5 – 10 mm atau seberat 20 – 100 mg, supaya ada pertumbuhan yang cepat dalam media baru. Subkultur sebaiknya dilakukan 28 hari sekali (4 – 6 minggu sekali). Namun waktu yang tepat untuk memindahkan kultur, tergantung dari kecepatan pertumbuhan kalus. Massa kalus ada 2 macam yaitu massa yang remah (friable) dan kompak. Bila massa kalus remah maka pemindahan kalus cukup dilakukan dengan menyendok kalus dengan spatula atau skapel langsung disubkultur ke media baru. Namun bila kalus kompak mesti dipindah ke petridish steril untuk dipotong-potong dengan skapel baru disubkultur ke media baru. Kalus yang sudah mengalami nekrosis (pencoklatan) sebaiknya tidak ikut disubkultur karena tidak akan tumbuh dengan baik.

 

  1. 6.      Manipulasi Regenerasi

Inti keberhasilan system in vitro tergantung pada kemampuan manipulasi regenerasi melalui pengaturan komposisi medium, lingkungan, dan sumber eksplan. Regenerasi eksplan dapat terjadi melalui beberapa cara, yaitu:

  1.     1.         pembentukan pucuk adventif langsung dari permukaan eksplan,
  2.     2.         pembentukan pucuk adventif melalui fase kalus,
  3.     3.         pembentukan embrio somatic langsung dari eksplan,
  4.     4.         pembentukan embrio somatic melalui fase kalus, dan
  5.     5.         pembentukan protocorm-like bodies(khusus pada anggrek).

Regenerasi tanaman setelah melalui fase kalus , dapat terjadi melalui salah satu dari keadaan di bawah ini:

  1.     1.         Regenerasi melalui dua langkah prosedur:
    1. Masa inkubasi pada medium yang mengandung auksin + sitokinin,
    2. Masa regenerasi dengan memindahkan kalus ke medium tanpa auksin tapi mengandung sitokinin
    3.     2.         Regenerasi terjadi melalui medium dengan perbandingan sitokinin dan auksin yang tepat. Pada Solanaceae dibutuhjan sitokinin lebih tinggi daripada auksin.
    4.     3.         Regenerasi terjadi pada konsentrasi absolute auksin dan sitokinin tertentu, misalnya NAA 2 µM + kinetin 2µM.
    5.     4.         Regenerasi terjadi pada kalus yang diinduksi dengan jenis auksin tertentu, misalnya asparagus dengan NAA atau IAA, bukan 2,4-D.
    6.     5.         Regenerasi terjadi bila ada penambahan zat-zat tertentu, misalnya ABA atau giberelin.

 

 

 

  1. 7.      Mutasi Kalus

Mutasi kalus adalah teknik kultur jaringan untuk menghasilkan individu baru yang bersifat lain dari induknya melalui cara-cara trial and error dan pasti.
Trial and error merupakan teknik coba-coba karena hasilnya baru diketahui setelah individu dewasa. Cara ini dengan menggunakkan radiasi sinar X, pemanasan gelombang mikro dan pemanasan dengan alat solder. Individu yang dihasilkan biasanya menyimpang dari induknya sehingga memberikkan nilai plus (mutan atau albino).

Teknik yang memberikan kepastian terhadap percobaaan yang diinginkan dapat dari kalus yang ditanam dimedia yang sengaja diberi kondisi yang tidak diinginkan sehingga jika kalus tersebut bisa bertahan, maka individu yang dihasilkan akan resisten terhadap kondisi yang tidak diinginkan tersebut.
Teknik mutasi anggrek di dalam kultur bertujuan untuk meningkatkan peluang mutasi dengan cara memberikan perlakuan atau rangsangan yang dapat berupa bahan kimia, fisik / lingkungan atau radiasi. Mutasi anggrek diharapkan akan memeri peluang munculnya sifat-sifat anggrek yang baru yang belum ada sebelumnya yang mempunyai nilai komersial.

Bahan kultur anggrek yang biasa digunakan untuk perlakuan mutasi adalah kalusnya. Setelah Anda mempunyai stok kalus anggrek tertentu maka kalus tersebut diberi perlakuan mutasi dan kemudian diamati mana yang memperlihatkan pertumbuhan yang berbeda dan memperlihatkan sifat yang baik.
Untuk pemberian perlakuan radiasi maka anda dapat membawa spesimen kalus anggrek Anda ke BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional) yang berlokasi di Pasar Jumat Jakarta Selatan. Setelah itu biarkan kalus-kalus tersebut tumbuh dan diperbanyak sampai jumlah yang memadai. Kemudian sebagian diakarkan dan ditumbuhkan sampai besar. Kemudian dicari anggrek mana yang memperlihatkan mutasi dengan sifat yang baik dan mempunyai nilai komersial yang tinggi. Memang dalam hal ini kita tidak dapat mengontrol arah mutasi atau kita tidak dapat mengatur mutasi ke arah sifat yang kita harapkan / inginkan.

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Berdasarkan latar belakang dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan bahwa:

  1.  1.            Kultur kalus merupakan pemeliharaan bagian kecil tanaman dalam lingkungan buatan yang steril dan kondisi yang terkontrol.
  2.  2.            Kalus adalah suatu kumpulan sel amorphous (tidak berbentuk atau belum terdiferensiasi) yang terjadi dari sel – sel jaringan yang membelah diri secara terus menerus secara in vitro atau di dalam tabung. Kalus dapat diperoleh dari bagian tanaman seperti akar, batang, dan daun. Secara in vivo, kalus pada umumnya terbentuk pada bekas – bekas luka akibat serangan infeksi mikro organisme seperti Agrobacterium tumefaciens, gigitan atau tusukan serangga dan nematoda. Kalus yang diakibatkan oleh hasil dari infeksi bakteri Agrobacterium tumefaciens disebut tumor.
  3.  3.            Tujuan kultur kalus adalah untuk memperoleh kalus dari eksplan yang diisolasi dan ditumbuhkan dalam lingkungan terkendali. Kalus diharapkan dapat memperbanyak dirinya (massa selnya) secara terus menerus.

Pada umumnya kemampuan pembentukkan kalus dari jaringan tergantung juga dari:

  1. Umur fisiologi dari jaringan waktu diisolasi
  2. Musim pada waktu bahan tanaman diisolasi
  3. Bagian tanaman yang dipakai
  4. Jenis tanaman

Keberhasilan aplikasi teknik kultur jaringan tidak terlepas dari pemahaman atas ilmu fisiologi tanaman secara total dan mendalam, karena kultur jaringan melibatkan pemisahaan komponen – komponen biologis dan tingkat pengendalian yang tinggi dalam memacu proses regenerasi dan perkembangan jaringan. Setiap urutan proses dapat dimanipulasi melalui seleksi bahan tanaman, medium kultur, dan faktor – faktor lingkungan, termasuk eliminasi mikroorganisme seperti jamur dan bakteri.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Zulkarnain. 2009. Kultur Jaringan Tanaman. Jakarta: Bumi Aksara.

www.google.com

Makalah Umbi Palsu

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

1.1.1 Pembiakan Vegetatif Secara Umum

Perbanyakan secara vegetatif adalah cara perkembangbiakan tanaman dengan menggunakan bagian – bagian tanaman seperti batang, cabang, ranting, pucuk daun, umbi dan akar, untuk menghasilkan tanaman yang baru, yang sama dengan induknya. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada dibagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang, daun, sekaligus.

Pembanyakan secara vegetatif ini dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu: stek atau cutting, okulasi, penyambungan, dan cangkok. Perbanyakan stek tidak memerlukan teknis yang rumit yang dimana dalam perbanyaka tanaman stek ini mempunyai keunggulan yaitu dapat menghasilkan tanaman baru dalam jumlah yang banyak walaupun bahan tanaman yang tersedia terbatas dan dapat menghasilkan tanaman yang sifatnya sama dengan induknya. Selain itu, tanaman yang berasal dari perbanyakan secara vegetatif lebih cepat berbunga dan berbuah. Sementara itu, kelemahannya adalah membutuhkan pohon induk dalam jumlah besar sehingga membutuhkan banyak biaya. Kelemahan lain, tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan cara stek dan tingkat keberhasilannya sangat kecil. Terlebih jika dilakukan oleh para hobis atau penangkar pemula.

1.1.2 Perbanyakan Tanaman Dengan Setek

Setek berasal dari kata stuk (bahasa Belanda) dan cuttage (Inggris) yang artinya potongan . Stek (cutting) adalah suatu teknik mengusahakan perakaran dan bagian-bagian tanaman (cabang,daun,pucuk dan akar) yang mengandung mata tunas dengan memotong dari induknya untuk tanaman, sehingga akan memperoleh tanaman baru. Menurut bentuknya stek dapat dibedakan menjadi beberapa bagian antara lain adalah stek akar, stek daun, stek batang, stek umbi dan stek pucuk (Pracaya,1996).

Perbanyakan secara stek akan diperoleh tanaman yang baru yang sifatnya seperti induknya. Stek dengan kekuatan sendiri akan menumbuhkan akar dan daun sampai dapat menjadi tanaman yang sempurna dan menghasilkan bungan dan buah (Widianto, 2002).

Keunggulan teknik ini adalah dapat menghasilkan tanaman baru dalam jumlah banyak walaupun bahan tanam yang tersedia sangat terbatas. mempunyai sifat yang persis sama dengan induknya, terutama dalam hal bentuk buah, ukuran, dan warna. Namun, tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan setek. Hanya tanaman yang mampu bertahan hidup lama setelah terpisah dari pohon induknya saja yang dapat diperbanyak dengan tehnik ini.

Selain adanya keunggulan, perbanyakan tanaman secara stek terdapat juga kelemahan baik secara fisiologis maupun morfologi dalam pertumbuhan tanaman yaitu perbanyakan tanaman secara stek memiliki akar serabut yang mana akar serabut pertumbuhan tanamannya rentan yaitu sangat mudah roboh pada keadaan ikim yang kurang mendukung seperti angin kencang, tanah selalu jenuh sehingga perakarannya dangkal, membutuhkan tanaman induk yang lebih besar dan lebih banyak sehingga membutuhkan biaya yang banyak dan dalam perbanyakan tanaman secara stek tingkat keberhasilanya sangat rendah serta pada saat musim kemarau panjang tanaman menjadi tidak tahan kekeringan.

1.2.  Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini adalah :

Mahasiswa bisa mengetahui dan memahami materi tentang stek umbi palsu dan diharapkan mampu untuk mengaplikasikanya.

BAB II

SETEK UMBI

2.1. Perbanyakan Tanaman Dengan Stek Umbi

Di alam semesta ini terdapat banyak sekali tanaman umbi – umbian. Dari yang banyak tersebut. Hanya separuh dari tanaman tersebut yang berumbi sebenarnya atau sering disebut bulb. Sedangkan yang lainya dapat digolongankan kedalam umbi palsu (corm), umbi batang (tubers), umbi akar (tuberous roots). Dan akar batang (rhizome).

Walaupun terdapat perbedaan dalam struktur, bentuk dan kebiasaan hidup dari jenis umbi – umbian ini, tetapi semuanya mempunyai kesamaan yaitu mengumpulkan makanan dari dalam tanah selama proses hidupnya, kemudian menyimpannya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembiakan vegetatif stek digolongkan menjadi 3 (Rochiman dan Harjadi, 1973 dalam Pudjiono 1998):

1. Faktor tanaman, terdiri dari

a. Umur bahan stek
b. Kandungan bahan makanan pada stek
c. Kandungan zat tumbuh
d. Pembentukan kallus

2. Faktor lingkungan, terdiri dari

a. Media pertumbuhan
b. Kelembaban
c. Temperatur
d. Cahaya

3. Faktor pelaksanaan, terdiri dari

a. Perlakuan sebelum pengambilan bahan stek
b. Waktu pengambilan stek
c. Pemotongan stek dan pelukaan
d. Penggunaan zat tumbuh
e. Kebersihan dan pemeliharaan

Stek Umbi dapat di bagi lagi menjadi beberapa  yaitu

  • Umbi Palsu
  • Umbi Lapis
  • Umbi Batang
  • Umbi Akar
  • Akar Batang

Pada makalah ini pokok pembahasan tentang stek umbi palsu.

2.2 Perbanyakan Tanaman dengan Stek Umbi Palsu

Stek umbi palsu sering juga disebut dengan bulb palsu. Stek umbi palsu merupakan batang yang terletak dibawah tanah yang mempunyai mata dan ruas-ruas. Umbi jenis ini tidak mempuyai lembaran-lembaran daun yang berdaging seperti halnya bulb, tetapi hanya mempunyai beberapa daun rudimenter.

Tunas-tunas corm akan keluar dari corm yang telah masak dan akan berkembang menjadi tunas-tunas pembangun. Corm baru akan tumbuh diatas corm tua dan diantara corm ini kadang-kadang terdapat corm kecil (cormel).

Cara perkembangbiakan tanaman yang berumbi dengan cara memisahkan corm – corm yang baru atau dapat juga dengan cormelnya. Hasil pemisahan ini bisa langsung ditanam.

Umbi palsu (corm) mirip dengan umbi lapis tetapi bagian yang membesar merupakan pangkal batang. Helaian daun berbentuk sisik yang menutupi seluruh permukaan kormus terlihat jelas pada gambar di bawah ini.

Gambar1.1.Pseudobulb

Pseudobulb adalah singkatan dari pseudo-bulb atau umbi semu yang merupakan bukan bulb (umbi) yang sebenarnya. Pangkal batang epifit sympodial atau dalam beberapa spesies dasarnya semua batang yang kemudian menebal untuk membentuk apa yang disebut pseudobulb yang mengandung nutrisi dan air yang akan digunakan pada saat musim kering atau pada saat tanaman tersebut kekurangan air.

Pseudobulb mempunyai permukaan halus dengan alur membujur dan boleh mempunyai bentuk yang berbeda, sering kon atau oblong. Ukurannya sangat bervariasi, dalam beberapa spesies kecil Pseudobulb itu tidak lebih dari dua milimeter, sementara di anggrek terbesar di dunia yaitu spesies Grammatophyllum speciosum (anggrek raksasa), dapat mencapai tiga meter.

2.3. Contoh Tanaman dengan Perbanyakan Stek Umbi Palsu

2.3.1. Tanaman anggrek (dendrobium).

Anggrek atau dendrobium termasuk dalam keluarga tanaman bunga-bungaan. Anggrek terdapat pada hutan yang gelap, di lereng yang terbuka, pada batu karang yang terjal, pada batu-batuan didaerah pantai dengan garis pasang surut tinggi. Bahkan di tepi gurun pasir pun anggrek dapat ditemukan. Tumbuh dari kutub utara sampai daerah katulistiwa dan selatan pada semua benua kecuali Antartika. Anggrek yang banyak digemari adalah anggrek epifit dari daerah tropis.

Dendrobium adalah salah satu marga anggrek epifit yang biasa digunakan sebagai tanaman hias ruang atau taman. Bunganya sangat bervariasi dan indah. Dendrobium relatif mudah dipelihara dan berbunga.

Pola pertumbuhan anggrek Dendrobium bertipe simpodial, artinya memiliki pertumbuhan ujung batang terbatas. Batang ini tumbuh terus dan akan berhenti setelah mencapai batas maksimum. Pertumbuhan ini akan dilanjutkan oleh anakan baru yang tumbuh di sampingnya. Pada anggrek simpodial ini terdapat penghubung yang disebut rhizoma atau batang di bawah tanah. Dari rhizoma ini akan keluar tunas anakan baru. Di antara rhizoma dan daun ada semacam umbi yang disebut pseudobulb (umbi palsu). Ukuran maupun bentuk pseudobulb bervariasi.

Anggrek Dendrobium membutuhkan sinar matahari dengan sedang sampai tinggi, tergantung dari jenis Dendrobium. Apabila suhu terlalu tinggi dapat dibantu dengan pengkabutan dengan penggunaan semprotan untuk menghindari penguapan yang lebih besar.

Perbanyakan Tanaman Anggrek Dendrobium dapat dilakukan dengan cara :

  • Pembiakan generatif :

Perbanyakan dengan biji buah yang telah masak. Masa masak buah anggrek sangat tergantung dari jenis anggreknya, dan iklim juga mempengaruhi kematangan buahnya. Pembiakan generatif ini memerlukan perlakuan yang khusus diantaranya biji harus steril dari hama dan penyakit.

  • Pembiakan vegetatif :

Pembiakan dengan mengambil bagian tanaman induknya seperti :

  • Stek untuk jenis monopodial.
  • Memecah rumpun untuk jenis simpodial.
  • Stek Umbi Palsu yaitu anak tanaman yang tumbuh dari batang atas (dendrobium), atau tangkai bunga (phalaenopsis).
  • Kultur jaringan, yaitu mengambil sebagian jaringan tanaman untuk diperbanyak dengan melalui proses di laboratorium. Dengan cara ini bisa dihasilkan tanaman bebas virus meskipun tanaman induknya terjangkit.

Gambar 1.2.TanamanMonopodial: Batang tumbuh dari tunas tunggal, daun ditambah dari puncak setiap tahun dan tumbuh lagi batang sesuai. Batang anggrek dengan pertumbuhan monopodial dapat mencapai beberapa meter panjang, seperti dalam Vanda dan Vanilla

Gambar 1.3.Tanaman Sympodial: menghasilkan serangkaian tunas yang tumbuh berdekatan dengan ukuran tertentu, mekar dan kemudian berhenti tumbuh, untuk kemudian diganti. Sympodial anggrek tumbuh lateral berbanding menegak, mengikuti permukaan. Pertumbuhan terus berkembang menjadi rimpang dan memulakan pertumbuhan lagi dari mata yang disebut sebuah kuncup berkembang, sehingga percabangan anggrek terestrial mungkin rhizomatous atau bentuk subang atau bonggol.

2.3.2. Tanaman Gladiol (Gladiolus hybridus)

Gladiol berasal dari bahasa latin “Gladius” yang berarti pedang kecil, menunjukkan pada bentuk daunnya yang sempit dan panjang seperti pedang. Gladiol berasal dari Afrika selatan dan sudah menyebar di asia sejak 2000 tahun yang silam.

Sebagaimana ciri tanaman yang termasuk subklas monocotyledoneae, tanaman gladiol berakar serabut, namun demikian tanaman gladiol membentuk pula akar kontraktil dengan diameter ± 0,7 cm berwarna putih yang berfungsi menyangga dan menempatkan subang baru pada lapisan tanah yang tepat. Akar kontraktil mempunyai sejumlah rambut halus yang berfungsi sebagai penyerapan air dan organ penyimpan sementara. Subang baru terus berkembang untuk menggantikan subang induk yang semakin mengkerut diikuti dengan mengecilnya diameter akar kontraktil.

Subang (corm) adalah batang yang termodifikasi menjadi bulat pipih dan mengandung buku, ruas, dan mata tunas. Subang terjadi dari ruas tunas terbawah yang membengkak dan menghasilkan organ persediaan makanan yang mampu berfungsi sebagai alat reproduksi. Bagian yang membengkak tersebut dalam pembentukannya tertutup oleh bagian bawah dari daun yang mengering dan mengeras, serta bertindak sebagai penutup organ cadangan makanan. Mata tunas terletak pada 2 sisi yang berlainan dari subang. Anak subang juga dapat berfungsi sebagai alat pembiakan vegetatif namun membutuhkan waktu lama untuk hingga saat menghasilkan bunga berukuran standar, yaitu antara dua sampai empat tahun.

 

Gambar 1.4. umbi (subang) gladiol yang akan di jadikan setek umbi palsu.

Selama fase vegetatif hingga fase generatif akan terjadi pembesaran pada ruas terbawah dari tanaman yang kemudian berkembang menjadi subang baru. Subang baru terus berkembang dan membesar untuk menggantikan subang induk yang makin lama makin mengkerut dan akhirnya mati. Bersamaan dengan mengkerutnya subang induk, terbentuk anak subang dari stolon yang berasal dari mata tunas aksilar di antar subang induk dan subang baru. Anak subang merupakan jaringan berdaging yang dilapisi kulit luar yang keras. Jumlah anak subang yang terbentuk bervariasi bergantung kultivar dan kedalaman tanam.

Perbanyakan gladiol dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan perbanyakan secara generatif dan secara vegetatif.

Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan degan menggunakan subang utuh, subang belah, dan anak subang. Pada umumnya gladiol diperbanyak dengan subang (corm) dan anak subang (cormel).

  1. Subang utuh

Subang utuh yang dijadikan bibit untuk produksi bunga minimal berdiameter 2.5 cm. Makin besar ukuran subang bibit, makin cepat munculnya primordial bunga, dan makin meningkat panjang tangkai bunga, jumlah kuntum bunga per tangkai serta diameter bunga mekar.

  1. Perbanyakan dengan subang belah

Pada satu subang dapat tumbuh 1-4 mata tunas, setiap mata tunas akan menghasilkan 1 subang baru dan 1 tangkai bunga, tetapi untuk menghasilkan kualitas bunga yang baik hanya dipelihara 1-2 tunas saja.

Pembelahan subang dapat dilakukan pada subang yang mempunyai berat lebih dari 20 gr, jika kurang dari itu akan menghasilkan kualitas bunga yang lebih rendah. Pembelahan subang dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dibelah 2 bagian (pembelahan tepat ditengah subang) dan dibelah menjadi 3 bagian (bagian tengah, sisi kanan, dan sisi kiri untuk subang yang berdiameter lebih dari 4 cm). Yang perlu diperhatikan dalam pembelahan subang adalah:

–          Pisau yang digunakan harus bersih dan tajam

–          Setiap pembelahan mengikutsertakan mata tunas

–          Bagian bekas belahan perlu dioleskan dengan fungisida pekat agar tidak terjadi infeksi oleh patogen.

  1. Perbanyakan dengan anak subang

Anak subang terbentuk dari stolon yang berasal dari mata tunas aksilar di antara subang induk dan subang baru pada saat mengkerutnya subang induk. Jumlah anak subang yang terbentuk bervariasi bergantung kultivar dan kedalaman tanam. Penggunaan anak subang sebagai bahan perbanyakan hanya dimaksudkan untuk menghasilkan subang. Dari anak subang berdiameter 1 cm diperlukan 2 siklus penanaman sampai mampu memproduksi bunga potong kurang lebih selama 16 bulan.

Gambar1.5. Bahan Tanam (1) Subang Utuh (2) Subang Belah (3) Anak Subang/ Cormel

Gambar 1.6. proses penyetekan umbi palsu (subang) tanaman gladiol

Subang dan anak subang yang akan dijadikan bibit tidak dapat segera tumbuh bila ditanam meskipun pada lingkungan tumbuh yang cocok dan optimal, karena memerlukan masa dormansi. Selama masa dormansi subang dan anak subang yang telah kering disimpan ditempat yang beraliran udara baik dan terhindar dari cahaya matahari langsung. Ciri – ciri subang telah melewati masa dormansinya, dengan dicirikan munculnya calon akar berupa tonjolan kecil berwarna putih melingkar dibagian bawah subang, dan munculnya tunas. Bila tunas mencapai 1 cm, maka subang sudah siap tanam.

Gambar 1.7. umbi (subang) gladiol pada saat masa dormansi dan tunas umbi gladiol yang telah tumbuh.

 BAB III

PENUTUP

 

3.1                          Kesimpulan

 

  • Penyetekan merupakan suatu perlakuan pemisahan, pemotongaan beberapa bagian dari tanaman seperti; akar, batang, daun dan tunas dengan tujuan bagian – bagian tanaman tersebut menghasilkan tanaman baru
  • Stek umbi palsu merupakan batang yang terletak dibawah tanah yang mempunyai mata dan ruas-ruas. Umbi jenis ini tidak mempuyai lembaran-lembaran daun yang berdaging seperti halnya bulb, tetapi hanya mempunyai beberapa daun rudimenter.
  • Subang (corm) adalah batang yang termodifikasi menjadi bulat pipih dan mengandung buku, ruas, dan mata tunas. Subang terjadi dari ruas tunas terbawah yang membengkak dan menghasilkan organ persediaan makanan yang mampu berfungsi sebagai alat reproduksi.

3.2                    Saran

Untuk lebih memahami semua materi tentang pembiakan vegetatif setek umbi palsu tanaman, disarankan para pembaca mencari referensi lain yang berkaitan dengan materi pada makalah ini. Dan juga diharapkan para pembaca setelah membaca makalah ini mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari – hari.

 DAFTAR PUSTAKA

 Booklet petunjuk teknis gladiol

http://pembiakanVegetatifStekC2AB20Baskara9027s20Blog.htm

http://PerbanyakanTanamanSecaraVegetatifSetekC2ABTHL-TBPPKERINCI.htm

http://perbanyakan_tanaman.php.htm

Herlina, D. 1991. gladiol. penebar swadaya.

Herlina, D. 1995a. Perbanyak gladiol. Balai penelitian tanaman hias. Badan penelitian dan pengembangan pertanian, jakarta.

makalah Umbi palsu

Zat Pengatur Tumbuh (Root up, Atonik & Super Gib)

Seringkali kita mendengar kata-kata ZPT. Zat pengatur tumbuh atau disingkat ZPT merupakan senyawa bahan organik selain unsur-unsur hara, yang mempunyai sifat seperti hormon tumbuhan, dan dalam jumlah kecil dapat mendorong, menghambat ataupun memodifikasi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan (Moore, 1979).

Saya melakukan kunjungan pada tanggal 28 Agustus pukul 15:00 ke Tani Jaya d/h toko Ba Yen yang beralamat di Jalan Djulaeha Karmita no 30 (depan SDN Karsawinaya) Cimahi. Toko Ba Yen merupakan toko saprotan di cimahi yang menjual bibit, pupuk dan obat-obat pertanian.

Saya mencatat ada 3 buah ZPT yang diperjualbelikan secara bebas di toko Bayen tersebut. Adapun ke 3 ZPT tersebut adalah:

1.    Root Up

 

a. Harga                          : Rp. 25.000/100 gr

b. Peranan produk           : Root up adalah hormon pertumbuhan akar, untuk merangsang pertumbuhan akar pada perbanyakan vegetative (cangkok,stek). Root up mengandung fungsida untuk mencegah jamur, cendawan, infeksi dan berbagai penyakit di bagian yang terluka / terkena sayatan.

c. Dosis                           : 75 mg/ml/tanaman

 

Rootone merupakan tepung bubuk putih. Produk ini mengandung auksin yang merupakan zat pengatur tumbuh (ZPT). Jika digunakan dalam dosis kecil, part per million (ppm), auksin ternyata dapat berfungsi untuk
merangsang perpanjangan sel, pembentukan bunga dan buah, pertumbuhan
akar pada stek batang, memperpanjang titik tumbuh, serta mencegah gugur
daun dan buah. Kandungan rootone secara lengkap adalah sebagai berikut : Naphtalene acetamida (NAD) 0,067%, metil 1 Naphthalene acetamida (m-NAD) 0.013 %. Metil 1 Napthalene Acetic Acid (MNAA) 0.003%, Indol Butyric Acid (IBA) 0,057% dan thyram 4 %. (soemarno, 1975 dalam Astuti,2000).

Berdasarkan hasil penelitian pemakaian IBA dan NAA lebih baik jika dibandingkan dengan pemakaian IAA karena keduanya mempunyai sifat kimia lebih stabil dan mobilitas lebih rendah dalam bagian tanaman. Hal ini menyebabkan pemakaiannya lebih berhasil jika dibandingkan dengan IAA, karena IBA dan NAA tetap berada di tempat pemberian, tidak menyebar ke bagian lain.(Kusumo, 1984).

Natrium NAA atau natrium (naphthyl acetic acid / asam naftali asetat) juga memiliki kegunaan mendorong pembungaan serempak pada tanaman. Dengan konsentrasi 5-10 ppm, disemprotkan ke seluruh bagian tanaman terutama stomata daun,terbukti dapat memunculkan bunga.

Seperti yang kita ketahui Auksin berperan dalam menghambat peluruhan atau perontokan daun, bunga dan buah sehingga mendukung pertumbuhan bunga dan buah. Hal ini disebabkan karena auksin dapat bereaksi pada tanaman dengan menghasilkan inhibitor bagi senyawa tertentu. Inhibitor yang terbentuk dapat berfungsi sebagai penghambat terbentuknya zat etilen. Pembentukan etilen dalam jumlah besar pada tanaman yang sedang tumbuh akan merangsang terjadinya absisi peluruhan perontokan dari berbagai macam organ tanaman (Pangaribuan, 2004). Adapun auksin alami banyak terdapat didalam cairan biji jagung muda yang masih berwarna kuning, air seni sapi, ujung koleoptil tanaman oat, umbi bawang merah dan air kelapa.(www.suaramerdeka.com)

2.    Atonik

(Karena pemilik toko tidak mengizinkan penulis mengambi foto, maka foto ini diambil dari situs http://www.lembahpinus.com)

 

  1. Harga                              : Rp. 45.000/500 mL
  2. Peranan Produk               : Produk ini mengandung atonik. Adapun atonik Atonik adalah gabungan garam natrium 5 – nitroquicol dan garam natrium dari para hitrophenol (Kusumo, 1984).

Kandungan lengkap dari atonik adalah sebagai berikut:

Natrium senyawa fenol, yaitu 0,2% Na-Ortonitrofenol (C6H4NO3Na), 0,3% Na-paranitrofenol (CP6H4NO3Na), 0,1% Na-5 ­nitroquaniakol (C7H6N04Na) dan 0,05% Na-2,4 dinitrofenol (C6H3N2O5Na). Ion Na+ berfungsi sebagai karier metabolit dalam proses metabolisme, dan ion Na+ mampu menggantikan sebagian fungsi ion K+ (Etty Sumiati, 1989).

  1. Dosis                               : 0,5 ml / 1L
  2. Frekuensi                        :  2 minggu sekali disiram ke media.

Penggunaan atonik ini dengan cara disiramkan ke media tanam ditujukan untuk memudahkan transfer ion ion di dalam tanah sehingga jalur pengangkatan nutrisi dari dalam media ke bagian tanaman akan menjadi lebih lancar

 

3.    Super Gib

(Karena pemilik toko tidak mengizinkan penulis mengambi foto, maka foto ini diambil dari situs http://www.pupukag.blogspot.com)

 

a. Harga                          : Rp. 14.500/ 5gram/ tablet

b. Peranan Produk           : Produk ini mengandung Giberelin.

c. Dosis                           : 1 tablet untuk 14 -17 Liter air.

d. Frekuensi penggunaan  :  1 bulan sekali

 

Giberelin merupakan zat pengatur tumbuh yang berfungsi mendorong perkembangan biji, menghilangkan dormansi biji, perkembangan kuncup, pemanjangan batang dan pertumbuhan daun; mendorong pembungaan dan perkembangan buah secara partenogenesis; mempengaruhi pertumbuhan dan diferensiasi akar.Tempat dihasilkannya adalah meristem apikal tunas ujung dan akar daun muda.(Kusumo, 1984) Giberelin alami banyak ditemukan di umbi bawang merah.(www.suaramerdeka.com)

Tambahan penjelasan untuk foto, sehubungan toko Ba Yen tidak mengizinkan saya untuk mengambil foto produk secara langsung dari kamera, maka saya mohon maaf karena terpaksa menggunakan gambar yang saya ambil dari situs online saprotan yaitu lembah pinus.com.

Menurut saya tidak ada zat pengatur tumbuh yang spesifik untuk jenis tanaman tertentu. Namun ZPT itu spesifik untuk bagian tertentu dari tanaman. Misalnya Root up yang mengandung auksin sangat cocok digunakan untuk batang tanaman yang akan distek. Dengan pemebrian hormon auksin pada batang setek  maka akan merangsang tumbuhnya akar pada batang setek tersebut.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Astuti.2000.Pengaruh Lama Pengeratan Bahan Setek dan Konsentrasi Rootone

Terhadap Pertumbuhan Setek Kopi Robusta (Coffea canephora) Jurnal

Frontir Nomor 31

Kusumo,S.1984.Zat Pengatur Tumbuh. Jakarta: Soeroengan

Moore,T.C.1979.Biochemistry and Physiology of Plant Hormone.New York:

Helderberg

Pangaribuan,N.2004.Peranan Auksin dalam usaha Menekan Kelayuan Buah Muda

kakao (Theobroma kakao.l).Jurnal Matematika Sains dan teknologi, 5[1]

http://www.lembahpinus.com

http://www.suaramerdeka.com

 

”Mengamati Hama-hama dan gejala serangan pada tanaman kacang hijau”

  1. I.           PENDAHULUAN

 

1.1.            Latar belakang

Kacang hijau adalah sejenis tanaman budidaya dan palawija yang dikenal luas di daerah tropika. Tumbuhan yang termasuk suku polong-polongan (Fabaceae) ini memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber bahan pangan berprotein nabati tinggi. Kacang hijau di Indonesia menempati urutan ketiga terpenting sebagai tanaman pangan legum, setelah kedelai dan kacang tanah.

Bagian paling bernilai ekonomi adalah bijinya. Biji kacang hijau direbus hingga lunak dan dimakan sebagai bubur atau dimakan langsung. Biji matang yang digerus dan dijadikan sebagai isi onde-onde, bakpau, atau gandas turi. Kecambah kacang hijau menjadi sayuran yang umum dimakan di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara dan dikenal sebagai tauge. Kacang hijau bila direbus cukup lama akan pecah dan pati yang terkandung dalam bijinya akan keluar dan mengental, menjadi semacam bubur. Tepung biji kacang hijau, disebut di pasaran sebagai tepung hunkue, digunakan dalam pembuatan kue-kue ( isi onde-onde, dll ) dan cenderung membentuk gel. Tepung ini juga dapat diolah menjadi mi yang dikenal sebagai soun.

 

 

 

 

1.2.            Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui hama-hama yang menyerang tanaman kacang hijau mulai dari benih sampai hama yang menyerang, praktikum ini juga menjadi bukti hasil laporan akhir Ilmu Hama Tanaman.

 

1.3.            Manfaat

Manfaat praktikum ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara pengolahan, penanaman, dan mengetahui hama yang menyerang tanaman kacang hijau.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. II.       TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1.              Klasifikasi Tanaman Kacang Hijau

Kacang hijau merupakan salah satu tanaman semusim yang berumur pendek (kurang lebih 60 hari). Tanaman ini disebut juga mungbean, green gram atau golden gram. Dalam dunia tumbuh-tumbuhan, tanaman ini diklasifikasikan seperti berikut ini.

Divisi        : Spermatopyha

Sub-divisi : Angiospermae

Kelas        : Dicotyledoneae

Ordo         : Rosales

Famili       : Papilionaceae

Genus       : Vigna

Spesies     : Vigna radiata atau Phaseolus radiates

 

2.2.              Morfologi Tanaman Kacang Hijau

Kacang hijau merupakan terna dikotil semusim dengan percabangan sedikit, sistem perakaran akar tunggang, dan batang berkambium. Kacang hiaju dapat berubah penampilan menjadi tumbuhan setengah merambat dalam keadaan pencahayaan rendah.

Batang

Tanaman kacang hijau berbatang tegak dengan ketinggian sangat bervariasi, antara 30-60 cm, tergantung varietasnya. Cabangnya menyamping pada bagian utama, berbentuk bulat dan berbulu. Warna batang dan cabangnya ada yang hijau dan ada yang ungu.

Daun

Daunnya trifoliate (terdiri dari tiga helaian) dan letaknya berseling. Tangkai daunnya cukup panjang, lebih panjang dari daunnya. Warna daunnya hijau muda sampai hijau tua.

 

Bunga

Bunga kacang hijau berwarna kuning, tersusun dalam tandan, keluar pada cabang serta batang, dan dapat menyerbuk sendiri.

Buah

Polong kacang hijau berebntuk silindris dengan panjang antara 6-15 cm dan biasanya berbulu pendek. Sewaktu muda polong berwarna hijau dan setelah tua berwarna hitam atau coklat. Setiap polong berisi 10-15 biji.

Biji

Biji kacang hijau lebih kecil dibanding biji kacang-kacangan lain. Warna bijinya kebanyakan hijau kusam atau hijau mengilap, beberapa ada yang berwarna kuning, cokelat dan hitam . Tanaman kacang hijau berakar tunggang dengan akar cabang pada permukaan.

Perakaran

Tanaman kacang hijau mempunyai akar tunggang yang membentuk akar-akar cabang yang tumbuh menyamping (horizontal) tidak jauh dari permukaan tanah. Jika kelembapan tanah turun, akar akan berkembang lebih ke dalam agar dapat menyerap unsur hara dan air. Pertumbuhan ke samping dapat mencapai jarak 40 cm, dengan kedalaman hingga 120 cm.

 

2.3.              Syarat Tumbuh Kacang Hijau

Tanaman kacang hijau dapat tumbuh baik di daerah yang memiliki curah hujan sekitar 100 – 400 mm/bulan. Sedangkan untuk mendapatkan hasil optimal, tanaman kacang hijau membutuhkan curah hujan antara 70 – 200 mm/bulan. Suhu yang dikehendaki tanaman kacang hijau antara 21 – 34oC, akan tetapi suhu optimum bagi pertumbuhan tanaman kacang hijau 23 – 30oC. Tanah-tanah yang cocok yaitu: alluvial, regosol, grumosol, latosol dan andosol. Pada tanah – tanah podsolik merah kuning dan tanah yang mengandung banyak pasir kwarsa, pertumbuhan kacang hijau kurang baik, kecuali bila diberi tambahan pupuk organik atau kompos dalam jumlah cukup.

 

2.4.              Definisi Hama

Hama adalah organisme yang dianggap merugikan dan tak diinginkan dalam kegiatan sehari – hari manusia. Walaupun dapat digunakan untuk semua organisme, dalam praktik istilah ini paling sering dipakai hanya kepada hewan.

Suatu hewan juga dapat disebut hama jika menyebabkan kerusakan pada ekosistem alami atau menjadi agen penyebaran penyakit dalam habitat manusia. Contohnya adalah organisme yang menjadi vektor penyakit bagi manusia, seperti tikus dan lalat yang membawa berbagai wabah, atau nyamuk yang menjadi vektor malaria.

Dalam pertanian, hama adalah organisme pengganggu tanaman yang menimbulkan kerusakan secara fisik, dan ke dalamnya praktis adalah semua hewan yang menyebabkan kerugian dalam pertanian.

 

 

 

 

 

 

  1. III.        METODE PRAKTIKUM

 

3.1.         Waktu dan Tempat

Pengamatan ini dilaksanakan mulai pada tanggal 28 oktober hingga 30 Desember 2011. Dan pengamatan ini dilaksanakan di lahan praktikum depan rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

 

3.2.         Alat dan Bahan

Alat yang digunakan :

  • Cangkul
  • Sabit
  • alat tulis
  • kamera
  • Tali rapia

Bahan yang digunakan :

  • Benih kacang Hijau
  • Pupuk kompos

 

3.3.         Pelaksanaan

Kegiatan pelaksanaan praktikum dilakukan dengan beberapa tahap yaitu:

                           3.3.1.   Pembersihan lahan

Dilakukan untuk menghilangkan gulma – gulma yang ada pada lahan sebelum lahan ditanami kembali.

 

 

 

                           3.3.2.   Pemupukan Organik

Dilakukan selama tiga minggu sebelum penanaman dan termaksud menjadi salah satu kegiatan pengolahan lahan. Pemupukan dilakukan dengan memberikan pupuk kompos.

                           3.3.3.   Penanaman

Pada kegitan praktikum ini penanaman dilakukan pada tanggal 28 Oktober 2011. Cara Tanam Benih ditanam dengan cara tugal, dengan jarak 20 cm x 40 cm, tiap lubang diisi 3 biji.

                           3.3.4.   Pemeliharaan

v  Pengendalian gulma diadakan pada 11 Oktober 2010 dengan mencabuti gulma yang tumbuh disekitar tanaman kacang hijau. Pada hari yang sama juga diadakan pengamatan tanaman yang pertumbuhannya lambat, dilakukannya pemilihan tanaman dan 2 tanaman/lubang.

v  Pengamatan pada hama yang menyerang tanaman kacang hijau dilaksanakan mulai 4 oktober 2011 yakni minggu pertama setelah penanaman dan dilanjutkan setiap minggunya pada hari yang sama sampai pada pengamatan hama yang menyerang polong.

Pembumbunan: Pembumbunan digunakan untuk memperkuat berdirinya tanaman.

 

 

                           3.3.5.   Panen dan Pasca Panen

Panen

Kacang hijau dipanen sesuai dengan umur varietas, Tanda-tanda lain bahwa kacang hijau telah siap untuk di panen adalah berubahnya warna polong dari hijau menjadi hitam atau coklat dan kering. Keterlambatan panen dapat mengakibatkan polong pecah saat dilapangan. Panen dilakukan dengan cara dipetik. Panen dapat dilakukan satu, dua atau tiga kali tergantung varietas. Jarak antara panen kesatu dan ke dua 3-5 hari.

Pasca Panen

Pengeringan polong dilakukan selama 2 – 3 hari dibawah sinar matahari. Pembijian dilakukan secara manual yaitu dipukul – pukul dengan tongkat kayu. Pembijian dilakukan di dalam kantong atau karung untuk menghindari kehilangan hasil. Pembersihan biji dari kulit polong dilakukan dengan tampi. Sebelum disimpan biji kacang hijau di jemur kembali sampai mencapai kering simpan yaitu kadar air 8 – 10% (jika biji akan disimpan lama sekitar 6 bulan) tetapi jika di simpan sebentar maka kadar air 14% sudah cukup.

  1. IV.        Hasil dan Pembahasan

 

4.1.               Hasil

Hama-hama yang menyerang tanaman kacang hijau:

  1. 1.      Lalat kacang (Agromyza phaseoli Coq.)

Gejala Serangan

Gejala awal berupa bercak – bercak pada keping biji atau daun pertama. Bercak ini merupakan tempat peletaka telur. Selanjutnya terlihat liang gerek pada keping biji atau daun pertama.

Ketika polong yang diserang gugur, larva sudah berada di dalam batang. Pada saat larva telah berada di pangkal akar daun mulai layu dan kekuning – kuningan. Tanaman akan mati berumur 3 – 4 minggu. Jika tanaman tersebut dicabut akan didapati larva, pupa, atau kulit pupa di antara akar dan kulit akar. Tanaman yang terserang dan masih tetap hidup menampakkan akar – akar adventif di bagian terbawah dari batang.

Penyebab

Lalat kacang (Agromyza phaseoli Caq.) sebagai penyebab. Tubuhnya kecil dan berwarna hitam mengilap. Perkawinannya (kopulasi) biasa terjadi antara pukul 09.00 – 10.00 pagi. Waktu matahari bersinar terik, lalat ini bersembunyi di dalam rumput di dekat tanaman kacang hijau. Lalat kacang bertelur pada pagi hari. Telurnya diletakkan pada keping biji atau pada daun pertama.

Setelah telur menetas, belatungnya menggerek dan memakan keping biji atau daun sehingga terbentuk liang. Belatung ini akan terus menggerek ke tangkai daun dan masuk ke dalam batang sampai pangkal akar, Kepompong atau pupanya berwarna cokelat kuning. Pada setiap batang tanaman yang diserang rata – rata terdapat 4 – 5 pupa.

Pengendalian

Pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan musuh alami Agromyzae Dodd, Eurytoma poloni, Eurytoma sp., dan Cynipid. Selain itu, dapat pula dilakukan penyemprotan insektisida pada pagi hari, pada saat umur tanaman 4 – 10 HST.

  1. 2.      Penggerek polong (Etiella zinckenella Tr.)

Gejala Serangan

Gejala serangannya terlihat pada kulit polong berupa bercak hitam dan bila dibuka terdapat larva yang gemuk dengan kotoran-kotorannya berwarna hijau basah. Serangan pada polong kedua ditandai dengan satu lubang gerek yang bentuknya bundar.

Penyebab

Hama penyebabnya adalah penggerek polong (Etiella zinckenella Tr.). Penggerek polong kacang hijau sama dengan penggerek polong pada kedelai. Larva yang baru menetas menggerek masuk ke dalam polong menuju ke bagian bawah. Larva ini memakan biji di dalam polong sampai habis kemudian berpindah ke polong lain. Bentuk larvanya gemuk dan licin, larva yang masih kecil berwarna merah kebiru-biruan.

 

 

 

Pengendalian

Hama ini dapat dikendalikan dengan cara mengatur waktu tanam yang tepat, pergiliran tanaman, dan upaya penanaman secara serentak. Dapat juga dilakukan penyemprotan insektisida dekametrin, sihalotrin, dan monokrotofos.

  1. 3.      Ulat jengkal (Plusia chalcites Esp.)

Gejala Serangan

Ulat ini menyerang tanaman yang sudah agak tua dan memakan daunnya sehingga tinggal tulangnya saja.

Penyebab

Hama penyebabnya adalah ulat jengkal kedelai (PIusia chalcites Esp.). Tubuhnya berwarna hijau. Bentuk dewasanya berupa kupu – kupu. Telur kupu – kupu ini diletakkan berkelompok sebanyak 50 butir. Stadium telurnya selama 3 hari. Larva tersebut akan menjadi kepompong di antara daun yang dianyam menjadi satu. Stadium pupanya selama 6 hari.

Pengendalian

Pengendalian secara mekanis dengan cara mengumpulkan telur dan larva, sedangkan secara kimiawi dengan insektisida dekametrin, sihalotrin, diflubenzuron atau monokrotofos.

 

 

 

  1. 4.      Kepik padi hijau (Nezara viridula)

Gejala Serangan

Polong muda isinya terisap. Bila polong dibuka tampak bijinya pipih tanpa isi. Bagian yang terserang tampak berbercak hitam.

Penyebab

Hama penyerang adalah kepik padi hijau (Nezara viridula). Kepik ini meletakkan telurnya yang berwarna kuning secara massal di permukaan bawah daun. Kelompok telurnya 5-10 butir. Stadium telumya selama 6 hari. Setelah telur menetas, larvanya berkumpui di polong dalam kelompok besar. Stadium larvanya selama 30 hari. Masa pertumbuhan dari telur hingga dewasa selama 36 hari.

Pengendalian

Pengendalian secara mekanis dengan mengumpulkan imago, telur, dan nimfa, sedangkan secara kimiawi dengan insektisida metamidofos dan karbaril. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan penanaman serempak dengan kisaran waktu tidak lebih dari 26 hari.

  1. 5.      Thrips sp.

Gejala Serangan

Serangan hama ini menyebabkan daun menggulung ke dalam (keriting) karena sel – sel di bagian atasnya mengerut.

Penyebab

Kutu Thrips menyerang tanaman dengan mengisap cairan tanaman sehingga mengganggu proses fotosintesis dan mengakibatkan menurunnya hasil. Penurunannya dapat mencapai 60, bahkan tidak menghasilkan sama sekali (puso) bila serangannya berat. Pantas jika hewan ini merupakan hama yang paling berbahaya bagi tanaman kacang hijau. Selama fase vegetatif tanaman, serangan hama ini sangat rendah.

Pengendalian

Pengendalian dengan menggunakan insektisida metamidofos, karbaril, atau monokrotofos.

  1. 6.      Kumbang Callosobruchus

Gejala Serangan

Kumbang ini meletakkan telurnya pada permukaan polong atau biji kacang hijau. Larva yang baru menetas langsung menggerek masuk ke dalam biji dan memakan kotiledon serta bagian biji lainnya.

Penyebab

Kumbang Calloso-bruchus maculatus yang menyerang biji. Siklus hidup kumbang ini, pada biji kacang hijau varietas MB 129, berlangsung antara 23-28 hari. Kemampuan bertelur kumbang betina antara 40-90 butir. Persentase telur yang dapat menetas hingga menjadi dewasa sebesar 19-98. Perbandingan antara jantan dewasa dan betinanya 1:1.

Pengendalian

Biji sebaiknya disimpan dalam kantong plastik, karung plastik, atau kaleng yang tertutup rapat. Biji atau benih yang akan disimpan hams berkadar air rendah dalam kemasan kedap udara. Kadar air biji 90 dalam kemasan dapat mempertahankan biji selama 6 bulan. Cara lain yaitu dengan melakukan fumigasi dengan aluminium fosfit atau metil bromida atau dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif pirimiphos metil, femitrothion, atau metacrifos pada permukaan kemasan.

  1. 7.      Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)

Gejala Serangan

Kerusakan terjadi karena ulat menghabiskan seluruh daun sehingga biasanya hanya tersisi tulang daunnya saja hal ini mengakibatkan penurunan jumla produksi.

Pengendalian

Dilakukan dengan cara pengolahan tanah atau penggemburan tanah, pengendalian secara biologi dan penggunaan insektisida.

  1. 8.      Belalang Kembara ( Locusta migratoria)

Belalang menyerang tanaman kedelai dan kacang hijau, gejala serangan yang ditimbulkan adalah terdapat robekan pada daun, dan pada serangan yang hebat dapat terlhat tinggal tulang-tulang daun saja.

 

4.2.               Pembahasan

4.2.1.            Keadaan umum tanaman dan lingkungan

Selama pengamatan berlangsung terlihat pertumbuhan tanaman mempunyai vigor yang baik. Namun selama pengamatan berlangsung terlihat beberapa tanaman terserang hama pada minggu ke- 2 yang menyebabkan beberapa tanaman bagian daunnya dimakan dan ada pula yang menggerek batang. Serangan hama ini umumnya pada saat praktikum disebabkan oleh belalang. Namun kami bersyukur tidak ada tanaman yang sampai mati. Bagian tanaman yang terserang hama dalam laporan ini kami masukkan setiap terjadi pertambahan variabel pertumbuhan tanpa mengurangi jumlah tanaman yang terserang hama. Maksudnya setiap bagian tanaman yang terserang hama tetap dihitung untuk minggu selanjutnya.

4.2.2.            Pertumbuhan Tanaman

Pertumbuhan, dalam arti terbatas, menunjuk pada perambahan ukuran yang tidak dapat balik, mencerminkan bertambahnya protoplasma, yang mencerminkan pertambahan protoplasma. Perkembangan, diartikan pada diferensiasi, suatu perubahan dalam tingkat lebih tinggi yang menyangkut spesialisasi dan organisasi secara anatomi dan fisiologi. Pertumbuhan tanaman ditunjukkan oleh pertambahan ukuran dan berat kering yang tidak dapat balik.

Tanaman kacanag hijau tumbuh dengan cukup baik, seperti yang terlihat pada gambar diatas. Dalam penanaman kacang hijau ini kami tidak menggunakan bahan kimia, karena pada praktikum yang kami lakukan tujuan utamanya adalah untuk mengamati hama – hama yang menyerang tanaman kacang hijau serta gejala serangannya.

 

 

 

 

  1. V.               KESIMPULAN DAN SARAN

 

Dari hasil pratikum dapat disimpulkan :

 

v  Dalam penanaman kacang hijau ini kami tidak menggunakan bahan kimia, karena pada praktikum yang kami lakukan tujuan utamanya adalah untuk mengamati hama – hama yang menyerang tanaman kedelai dan kacang hijau serta gejala serangannya.

v  Hama yang menyerang tanaman kacang hijau antara lain kutu daun, ulat tanah, kutu kebul, wereng, thrips, tungau, ulat penggulung daun, ulat grayak, ulat jengkal dan ulat heliothis.

v  Jenis – jenis hama yang menyerang tanaman kacang hijau kebanyakan antara lain ulat grayak, belalang, ulat jengkal, ulat penggulung daun dan sebagainya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bate-smith, E.C.  1967. Comparative Biochemistry  of Flavonoid-III. Phytochemistry. Pergamon Press Ltd. London. 6.1407-1413.

Beck, B.  1964. The Oestrogenic  Isoflavones  of Subterranean Clover. Aust.  J.Agric. Res.  15  (2). 223-30.

Braden, A.W.H.  et.  al.  1967. The Oestrogenic Activity and Metabolism of Certain in  Sheep. Aust. 1.  Agric. Res.  18.335-248.

E. Holiston, dan L. Makmur.  1990. Flavonoid dan Phyto Medica.Kegunaan dan Prospek. Phyto Medica.  1(2).  120-127.

Gilderslleve,  R.R.  1991.  Detection  of Isoflavones  in  Seedling  Subterranean Clover. Crop Science. U  ni v.  of California. 31  (4).

Harborne,  J.B.  1967.  comparative Biochemistry of The Flavonoids. Academic Prees. London.

S, H. Soeprapto.1993. Bertanam Kacang Hijau. Penebar Swadaya : Jakarta.

Tjirosoepomo, Gembong. 2004. Taksonomi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.